The Small One

Against the world.


Strugglenya usaha yang masih kecil.

Banyak faktor yang membatasi usaha kecil, salah satunya ialah anggaran, untuk lebih spesifik yaitu alat produksi, anggaran disitu dimaksudkan jika saja ada biayanya pastilah tinggal beli.

Kali ini gw alami sendiri, jadi gini ceritanya...

Yang tadinya gw niat untuk memproduksi pin (yaitu salah satu jenis komoditas gw) yakni dengan cara handmade, gergaji manual, amplas dll. Dirasa-rasa hasilnya tidak bisa serapih dengan mesin, dlam hal ini mesin laser. Jadi akhir-akhir ini gw mutusin buat pake laser aja sekalian, kalau harganya memang masih masuk. Dan ya gw itung-itung harganya masih masuk.

Perjalanan berlanjut, gw pindah dari satu jasa cutting laser, ke jasa CL yang lain, bukanlah tanpa sebab, ada yang menyebabkan gw pindah karena sibuk, pekerjaannya sudah padat banyak orderan, ada yang kurang gesit + hasilnya yg gak memuaskan, ada yang oke, lumayan, tapi muaaahal. Dan yang terakhir ini, ketika gw nulis ini juga, harganya murah, hasilnya belum tahu, namun satu hal yang pasti, ngareeeet bro.

Oke, di tulisan ini yang mau gw bahas ini yang jasa terakhir atau sedang berlangsung. Kesan awalnya, pelayanan yang kaku dari pemilik owenernya (gw simpulin itu pemiliknya) sebenernya ada dua orang yg jadi forntman (cewk satu, tapi bukan kasir juga, mungkin admin, karena yg nerima duit cowok yang dibelakang). 

Ada beberapa kesan yang gw tangkap, pertama ketika gw udah ngasih file, terus dia ngomong "berapa banyak?" itu nanya ke si admin cewek "satu lembar aja yg tadi". Kesan gw masih netral disini, yah mau dianggap atau diremehin "segini doang" juga gw mah bodo amat, yang penting the job is done, and good result.

Terus pas mau pulang dan udah bayar (waktu itu 12k untuk ukutan A4 dibagi dua ketebalan 3mm) dengan ukuran design gw yang sekitar 4-5 cm dan bentuk ygn custom, dia ngomong beresnya sekitar 1-2 harian atau bisa lebih. Beuh lama juga, gw kira langsung selesai tapi ya sudahlah soalnya lumayan murah juga, itungannya dia bilang 4000/ menitnya. 

Oh untuk konteks, gw liat review di gmaps, banyak reviewnya salah satu yg gw inget banget banyak yang bilang pelayanannya profesionall. Hmm okelah gw rasa kekakukan pelayanan tadi bisa terbayar dengan profesionalitas kerjanya. Sipdah.

Hari ke dua gw mulai tanyain, wajar dongs kan ya, gw ada rasa hawatir mereka nganggep gw gak begitu ngarep cepet selesai kalo gak gw tanyain, walaupun mestinya (yg katanya profesional) merekalah yang harusnya ngontek gw. 

Gw tanyain udah beres atau belum dan dijawablah "nanti kami kabari ya." gw masih bilang oke, karena ini dihari ke dua. Namun semua pandangan gw mulai berubah setelha lepas dari hari ke dua. 

Dan gw rasa "apanya yang profesional"

Lima hari, berlalu tidak ada kabar , kecuali dari pesan yang dimana gw yang nanya duluan.


--- Enough. ---

Cukup, itu yg gw pikirin akhir-akhir ini. Cukup untuk gw mulai memberikan penilaian. Dari pada gw sesek hati kan ya, marah-marah gak karuan lebih baik sikapi kaya Han di film Tokyo Drift. Gw mungkin kehilangan uang dan waktu, tapi gw dapet nilai yang jitu dan otentik untuk toko jasa tersebut.

Dititik ini gw gak akan nanyain lagi bagaimana kabar barang gw disana entah gimana nasibya lol, tapi kalo ada kabar beres, kayaknya bakal gw ambil juga, untuk memberikan penilaian finalnya, sntuhan akhir mereka itu seperti apa, itu yang pengen gw tahu. 

Walaupun gw bayangin juga dengan gw tolak, bodo amat, lo ambil aja, buang,bakar, jual lagi, itu yg gw bayangin ketika mereka ngabarin gw dengan waktu yang sudah sedemikian ngaretnya. Tapi gak ah gw pengen menyaksikan sampe akhir.


--- Lesson Learned ---

Yang gw dapet juga hikmah dari kejadian ini ialah, yah ...... inilah dia realitas dari strugglenya usaha kecil ingin jadi besar atau sekedar membukan jalan dulu, tak ada support yang benar-benar mendorong, menarik, dari pihak lain. Support yang beneran kongkrit, bukan coma slogan atau memang terlihat mengulurkan tangan, namun enggan menatap yg ditolongnya (sekedar doang, gak sama hatinya).

Maksud sama hatinya gimana? jadi gw ngebayangin gini kalau lah gw yang berada diposisi itu, dengan knowledge gw atau pengalaman gw sekarang ini salah satu support kongkrit yang bakal gw lakuin salah satunya ialah membuka pelayanan khusus kepada para pengusah perintis.

Contoh dalam konteks ini, kalau misalnya jasa potong itu, memang selalu mengharapkan orderan dengan jumlah yang besar, yg tentunya juga bakal datang dari perusahaan besar pula, batasilah waktu kerjanya. Inilah dimana pengorbananmu menolong usah kecil dimulai, kalau toko buka misalnya dari hari Senin ke Sabtu, maka setidaknya sisihkanlah satu hari untuk para pengusah kecil itu. 

Dimana khusus tidak melayani orderan dengan jumlah besar, yang bisa memakan waktu berhari-hari, minggu, bahkan bulan. Kalaulah demikian terus menerus, maka matilah lama-lama pengusaha kecil ini. Yang mana mereka masih dalam proses experimental, dengan budget yang pas-pasan pula. Mereka ini masih dalam masa Trial & Error, tapi sudah di treat layaknya perusahaan yang sudah jalan bertahun lamanya dan punya flow yang sudah teratur, terukur.


Komentar